WHO Waspadai Banyak Kematian di Puncak Kedua Pandemi Corona

Jakarta, CNN Indonesia — WHO   memperkirakan bahwa puncak kedua pandemi  virus corona tidak akan terlihat secara bertahap seperti gelombang infeksi.

Direktur Eksekutif Program Kedaruratan Kesehatan WHO, Mike Ryan mengatakan gelombang kedua Covid-19 berupa lonjakan kasus mendadak yang bisa memberati sistem perawatan kesehatan, dan kemungkinan menyebabkan lebih banyak kematian.

“Kita mungkin berada dalam puncak kedua (pandemi) dengan jalan ini, ” kata Mike Ryan seperti dikutip dari CNN , Jumat (29/5).
 
Menurut WHO, zaman ini dunia masih berada di gelombang pertama virus corona serta kasus infeksi masih terus meningkat. Angka infeksi ini bisa tiba-tiba melonjak secara signifikan.

Para ahli penyakit menular beriktikad penyebaran virus corona akan balik melonjak ketika musim panas sudah, namun mereka tidak mengetahui seberapa parah lonjakannya. 


Pada skenario pertama puncak kedua pandemi, kasus-kasus virus corona akan meningkat tajam dan cepat hingga menyentuh titik puncak yang baru.
 
Pada gelombang kedua, infeksi bisa diketahui lebih lambat dan berdampak di seluruh dunia dalam waktu berbeda.
 
Namun pada skenario kedua di mana kurva sudah berangkat rata, akan lebih banyak karakter terinfeksi virus corona di saat yang sama. Lalu pada saat musim penyakit flu, ini akan memberati sistem perawatan medis.
 
Direktur departemen kedokteran gawat di Johns Hopkins University, Gabe Kelen mengatakan ketika rumah sakit dan petugas kesehatan kewalahan, tersedia kemungkinan tinggi untuk mencegah angka kematian.

Foto: CNN Indonesia/Fajrian

 
“Satu-satunya alasan nyata untuk meredam puncak (pandemi) ini ialah mencegah kematian yang bisa dicegah, sehingga sistem perawatan kesehatan mampu menangani semua orang yang memerlukan (perawatan) dan memberi upaya pemulihan terbaik, ” kata Kelen.
 
Itu sebabnya mengapa banyak orang yang membuat data tentang perataan kurva, karena semakin stabil tingkat infeksi, maka bakal semakin mudah untuk ditangani.
 
Jika rumah kecil kewalahan menangani pasien Covid-19 ditambah kurangnya fasilitas kesehatan, ditakutkan bakal lebih banyak mengakibatkan kematian yang sia-sia.
 
Ujung kedua pandemi diprediksi akan berlaku selama musim gugur atau dalam akhir musim dingin, bertepatan secara musim flu.
 
Tetapi jika saat ini banyak negara membuka pembatasan, maka penularan ukuran besar akan terjadi dan dunia akan kembali memasuki fase mula ketika virus ini menyebar.
 
Lonjakan kasus bisa terjadi di awal Juni. Awal pembatasan juga bisa mempengaruhi periode dan tingkat keparahan infeksi.
 
Episentrum virus corona

WHO menilai masih ada beberapa bintik episentrum virus corona di seluruh dunia yang menyebabkan kekhawatiran meningkatnya kasus.
 
Kepala teknis tanggapan virus corona WHO, Maria Van Kerkhove mengatakan pihaknya mencermati peningkatan kasus di Rusia, Afrika, Amerika, beberapa negara di Asia Selatan, dan Eropa.
 
“(Negara-negara) itu ialah area yang kami khawatirkan karena seperti yang kita ketahui, ketika virus ini memiliki kesempatan buat benar-benar bertahan, ia bisa tumbuh dengan sangat, sangat cepat, ” kata Van Kerkhove.
 

Dia berharap penerapan vaksin bisa direalisasikan di simpulan tahun, tapi hanya jika semua berjalan dengan baik. Saat ini, para ilmuwan bekerja sepanjang periode meneliti lebih dari 100 vaksin potensial virus corona.
 
Hingga saat itu, jumlah kasus virus corona pada seluruh dunia mencapai 5. 909. 003 jiwa, 362. 081 kematian, dan 2. 581. 951 dinyatakan sembuh. AS menempati posisi mula-mula penderita Covid-19 terbanyak dengan total 1. 768. 461 kasus. (ans/dea)

[Gambas:Video CNN]