WHO Sebut Afrika Tak Siap Hadapi Gelombang Ketiga Corona

Jakarta, CNN Indonesia —

Organisasi Kesehatan Dunia ( WHO ) memperkirakan gelombang  corona ketiga berpotensi menghantam Afrika . Dalam sisi lain, pasokan vaksin juga berpotensi berkurang.

Namun demikian, itu menyatakan Afrika tidak jadi menghadapi hantaman tersebut. Pasalnya, banyak rumah sakit dan klinik di sana yang tidak siap.

Ketidaksiapan itu mereka simpulkan dari hasil survei. Menurut survei yang mereka lakukan Mei kemarin, fasilitas & personel kesehatan penting dengan diperlukan untuk menangani anak obat covid-19 yang sakit kronis sangat tidak memadai di banyak negara Afrika.


Dari 23 negara yang disurvei, sebagian besar memiliki kurang dari satu tempat tidur unit perawatan intensif bola lampu 100 ribu penduduk serta hanya sepertiga yang memiliki ventilator mekanik.

Itu jauh dibanding negeri lain. Untuk Jerman & Amerika Serikat saja misalnya, mereka memiliki lebih dari 25 tempat tidur bola lampu 100 ribu orang.

” Ancaman aliran ketiga di Afrika nyata dan meningkat. Tapi, penuh rumah sakit dan klinik Afrika masih jauh sebab siap untuk menangani penambahan besar pasien sakit gawat, ” kata direktur regional WHO untuk Afrika Matshidiso Moeti seperti dikutip lantaran AFP, Kamis (3/6).

Afrika telah secara resmi mencatat lebih sebab 4, 8 juta peristiwa infeksi corona dengan 130 ribu kematian. Menurut WHO, kasus di infeksi corona di Afrika itu mewakili 2, 9 persen urusan global dan 3, 7 persen kematian.

Dalam kira-kira pekan terakhir, benua itu telah mengalami peningkatan infeksi. Salah satunya Afrika Selatan.

Negara itu memiliki lebih dari 1, 6 juta kasus dengan 56. 439 kematian. Karena masalah tersebut, mereka memperketat kegiatan masyarakat.

Di Uganda, jumlah peristiwa melonjak 131 persen pada satu minggu. Di pusat peningkatan kasus itu, dengan bersamaan, Afrika juga bertemu kekurangan vaksin.

Bahkan di tengah kedudukan itu, pengiriman dan sediaan vaksin ke Afrika selalu hampir.

Akibatnya, baru 2 persen lantaran orang Afrika yang datang saat ini telah menyambut setidaknya satu suntikan vaksin. Padahal, total populasi negeri yang sudah menerima vaksin mencapai 24 persen.

(afp/agt)

[Gambas:Video CNN]