Teknik Lebaran Hemat di Tengah Pandemi Corona

Jakarta, CNN Nusantara — Setiap lebaran, berterima masyarakat Indonesia umumnya akan bertambah. Entah untuk beli baju mutakhir, kue kering, hingga Tunjangan Keadaan Raya ( THR ) bagi belahan dan ‘mbak’ di rumah.

Namun, kondisi pandemi virus corona atau covid-19 di dalam daerah tampaknya harus membuat masyarakat berhati-hati. Sebab, pandemi corona belum diketahui kapan akan berakhir, sementara hajat dana bisa jadi tak terduga ke depan.

Untuk itu, masyarakat perlu berjaga-jaga secara cermat mengelola keuangan, termasuk berterima jelang lebaran. Lantas seperti barang apa lebaran hemat tahun ini? Congkong pengeluaran mana saja yang sekiranya bisa dikurangi?



Perencana Keuangan dari Tatadana Consulting Tejasari Assad mengatakan pos pengeluaran pegangan merupakan yang pertama kali kudu disimpan. Toh , pemerintah menerbitkan larangan mudik pada lebaran tahun ini, sehingga anggarannya bisa tidak digunakan.

Apalagi, pengeluaran mudik biasanya cukup besar karena tidak hanya untuk transportasi menuju kampung halaman, tapi juga untuk akomodasi hingga wisata.

“Jadi sepenuhnya bisa ditabung atau diinvestasikan sementara di reksadana pasar uang, karena masih cukup menguntungkan dan cepat pencairannya bila sewaktu-waktu dibutuhkan, ” ucap Iktikad kepada CNNIndonesia. com , Jumat (8/5).

Cuma saja, menurut Teja, dana ini mungkin bagi sebagian orang tak semuanya bisa disimpan karena mungkin ada masyarakat yang masih berharap bisa mudik pada akhir tahun. Hal ini sesuai dengan kecendekiaan pemerintah mengalihkan libur cuti bergandengan lebaran ke akhir tahun.

“Kalau ada yang masih mau mudik, bisa dananya justru diinvestasikan, sehingga siapa tahu dalam tutup tahun ada penambahan. Yang belum punya dana, ini justru kesempatan karena bisa menabung lebih periode lagi, ” tuturnya.

Pos pengeluaran lain yang bisa dihemat adalah THR. Menurut Hati, tentu THR pekerja harus langgeng diberikan, namun THR kepada ahli mungkin ada yang bisa dikurangi.

“Memang THR-nya mampu transfer, tapi biasanya ada hasrat kalau ketemu langsung mau tak mau beri THR lebih, akan tetapi karena pandemi corona jadi tak bertemu terlalu banyak orang, itu bisa dihemat, ” jelasnya.

Kemudian, pengeluaran yang bisa dihemat adalah beli baju lebaran dan kue kering. Sebab, pertemuan secara sanak saudara tidak akan dikerjakan secara tatap muka, sehingga pengeluaran untuk dua hal ini seharusnya bisa dihemat.

“Bahkan agaknya tak perlu beli pun tidak apa berhubung tidak akan tersedia pertemuan yang sangat besar dalam lebaran ini, semua orang di rumah, ” katanya.

Nah, ketika semua pengeluaran mampu dihemat, Teja menyarankan agar dana ini sebagian tetap dipegang dengan tunai untuk keperluan mendesak & bersifat harian. Sisanya bisa ditaruh di reksadana pasar uang, deposito bank, dan saham.

“Intinya ke instrumen yang likuid, sehingga mudah dicairkan. Setidaknya sejak 20 persen dana yang tidak digunakan bisa diinvestasikan, ” imbuhnya.

Sementara emas meskipun harganya cukup mengkilap di kurun pandemi corona, namun Teja kurang menyarankan. Sebab, pergerakannya yang lekas naik turun akibat sentimen corona menimbulkan risiko potongan dananya cukup besar antara selisih harga beli dan jual.

Perencana Keuangan dari Advisors Alliance Group Nusantara Andy Nugroho menambahkan pengeluaran dengan bisa dihemat adalah dana sibak bersama selama ramadan. Menurutnya, pengeluaran untuk pos ini mungkin terasa ‘sepele’, namun siapa sangka jika makan-makan saat buka bersama dalam masa normal justru bernominal ‘lumayan’.

“Kelihatannya Rp50-100 ribu bagi buka bersama, tapi frekuensinya lulus sering, jadi sebenarnya bikin ‘boncos’ juga. Nah , sekarang bisa dihemat, bisa ditabung untuk dana darurat, ” ujar Andy.

Hanya saja, menurutnya sekalipun semua pengeluaran dihemat, namun Andy mengingatkan agar masyarakat tidak mengabaikan pentingnya pemenuhan hajat sehari-hari, khususnya yang menunjang imunitas. “Termasuk untuk asuransi kesehatan, minimal BPJS Kesehatan, ” imbuhnya.

Di sisi lain, kala pengeluaran sudah bisa dihemat lalu ditabung, Andy mengatakan tidak tersedia salahnya bila dana ini dikembangkan melalui bisnis. Syaratnya, semuanya terukur, mulai dari modal, pengelolaan, had pemasaran.

“Misalnya sasaran beku sedang booming, ini mampu jadi reseller untuk tambah pemasukan, tapi lihat pasarnya juga, tanpa sampai jadi merugi, ” pungkasnya.  

[Gambas:Video CNN]

(age/age)