PKB Jawab Kritik Baliho Cak Imin: Bukan Instruksi Pemimpin Umum

Jakarta, CNN Indonesia —

Wakil Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa ( PKB ), Jazilul Fawaid, memastikan pimpinan mereka yakni Muhaimin Iskandar alias Cak Imin , tidak sudah memberikan instruksi kepada kandidat untuk memasang baliho bersuara kampanye terkait Pemilihan Pemimpin ( Pilpres ) 2024.

Pernyataan tersebut disampaikan Jazilul merespons sindiran politikus senior Partai Moral Nasional (PAN) Abdillah Toha terhadap sejumlah politikus dengan wajahnya terpampang di sebesar baliho di tengah kesulitan rakyat menghadapi pandemi Covid-19.

Jazilul pun mengaku tidak mengetahui pihak yang memasang serta tujuan pemasangan papan iklan yang memuat wajah Cak Imin tersebut.


“Soal baliho saya pastikan bukan Intruksi Ketum PKB. Bahkan, saya biar malah tidak tahu itu inisiatif siapa, tujuannya apa, dan siapa yang perangkat, ” kata Jazilul saat dihubungi, Kamis (5/8).

Ia menegaskan kalau sikap partainya ialah mengutamakan masyarakat. Menurutnya, maklumat yang dikeluarkan oleh Cak Imin ialahv, meminta seluruh rangkaian PKB ikut turun membangun masyarakat yang terdampak Pandemi Covid.

“Rakyat diutamakan, ” ujarnya.

Berangkat dari itu, Jazilul pun meminta seluryh jajaran PKB di pada setiap tingkatan konsisten pada keterangan Ketum PKB itu dengan terus melayani masyarakat yang sedang kesulitan.

Wakil Ketua MPR itu pun mengingatkan bahwa penyelenggraan Pilpres 2024 masih lama.

“Kita layani dulu masyarakat, ” tuturnya.

Seperti dikasih beberapa media, spanduk maupun reklame bergambar wajah Cak Imin marak terpampang di pelbagai wilayah Indonesia.

Baliho-baliho itu bertuliskan ‘Gus AMI 2024’, berarakan ‘Padamu Negeri Kami Berbakti Gus Muhaimin 2024′. Ada juga yang bertuliskan ’23 Tahun PKB’.

Baliho Cak Imin menambah marak lapis spanduk dan baliho para politikus Indonesia yang dipasang di pelbagai wilayah belakangan ini. Sebelumnya sudah terang baliho bergambar wajah Puan, Airlangga, hingga AHY.

Abdillah pun mempersoalkan apakah ada perbuatan para politikus yang menunjukkan empati pada rakyat. Menurutnya, politikus Indonesia hanya berpikir soal kekuasaan dan uang.

Ia menyebut politikus setia kepada partai politiknya masing-masing. Abdillah berkata tak ada politikus yang menunjukkan loyalitas kepada rakyat.

“Tidak menjalankan perintah rakyat, di kepalanya menang, menang, menang, kekuasaan. Ya memang begitu, tidak bisa berpikir lain, ” ucap Abdillah saat dihubungi CNNIndonesia. com , Kamis (5/8).

(mts/kid)

[Gambas:Video CNN]