Piring Pelepah Pinang, Solusi Piranti Makan Ramah Lingkungan

Jakarta, CNN Indonesia —

Semasa ini  piring dikenal terbuat dari berbagai pelajaran seperti keramik, tanah kenyal, plastik, styrofoam, sampai kertas. Namun demi mengurangi limbah plastik dan styrofoam yang memicu munculnya sampah serta ancaman pemanasan global, permutasi baru pun dibuat.

Warga Desa Cahaya Wajo dan Desa Sungai Beras di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi membuat inovasi piring lantaran pelepah pinang.

Warga yang tergabung pada Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS), yaitu KUPS Lojo Kleppaa dan KUPS Kodopi Mitra Madani ini biasanya menjual pinang untuk kesibukan sehari-hari. Namun pandemi menghasilkan harga pinang terus menerus turun.


Menjelang tutup tahun 2020 masyarakat sekitar mulai mengembangkan bidang pelepah pinang yang idenya mereka bawa dari sungguh desa.

Ide inovasi tersebut dimulai karena sampah petiolus pinang terlalu banyak di kampung tersebut. Jika pelepah itu dibiarkan berserakan di perkebunan dan kemudian mengering, era musim kemarau sampah petiolus itu jadi mudah melalak. Hal ini berbahaya karena bisa memicu kebakaran lahan.

“Ketika pembaruan piring pelepah pinang dikembangkan, petani diuntungkan. Mereka tidak harus membersihkan area perkebunan dari pelepah yang setiap hari berjatuhan dan mengotori kebun. Perajin boleh mengambil dan memanfaatkan limbah pelepah itu sebagai bahan pokok, tanpa harus membayar sedikit pun. Jadi, bahan patokan yang begitu berlimpah mampu didapatkan secara gratis, ” kata Fasilitator Komunitas serta Kabupaten KKI Warsi Rupawan Shafira, dikutip dari Kurun.

Untuk membuat piring, pelepah pinang yang baru jatuh sekitar satu-dua hari diambil, lalu dicuci dengan sabun pencuci piring yang aman untuk target makanan. Piring ini dijemur selama kurang lebih 3 – 4 jam sampai kerig.

Sesudah itu, pelepah dicetak secara alatmolding hot pressdengan suhu 120 derajat celcius selama q1 meni. Piring tersebut dikeringkan di bawah sinar matahari.

Piring ini pun disebut lebih kokoh daripada piring kertas, karena pelepah pinang dasar tebal dan berlapis lilin.

Ada yang persegi panjang, ada selalu yang bundar dalam sengkang berbeda-beda. Dari segi warna, piring tersebut terbagi menjadi 3grade, yaitu A, B, dan C.   Grade A adalah piring nyaris tanpa corak atau benar, grade B adalah piring setengah bermotif, dan grade C adalah piring dengan banyak motif.

“Piring ini juga awet lama. Jika sudah dijemur hingga benar-benar kering, dia tidak akan berjamur setara sekali, meski disimpan pada dalam lemari tertutup. Kalau sudah selesai digunakan, piring bisa dibuang seperti mencoret daun pisang. Dia hendak terurai di alam minus merusak lingkungan, ” introduksi Ayu.

Selain itu, piring ini juga bisa dipakai berulang kala. Namun piring bisa dipakai hingga maksimal 8 kala.

Hanya saja untuk membersihkannya, Anda mampu mencucinya dengan sabun cuci piring namun jangan merendamnya.

(chs/chs)

[Gambas:Video CNN]