Paras Lama Penggawa Gerindra, Upaya Pertahankan Tuah di 2024

Jakarta, CNN Indonesia —

Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Golongan Gerindra   resmi mengumumkan kepengurusan baru periode 2020-2025. Sesuai buatan kongres, Gerindra  kembali dipimpin oleh Prabowo  Subianto  sebagai Ketua Umum didampingi Ahmad Muzani  sebagai Penulis Jenderal.

Susunan kepengurusan masih didominasi wajah-wajah lama dengan selama ini dikenal dekat dengan Prabowo  Subianto yang serupa menjabat Ketua Dewan Pembina.   Salah satunya Wakil Ketua Umum Gerindra Sufmi Dasco Ahmad yang ditunjuk sebagai ketua harian kelompok menggantikan Laksdya TNI (Purn) Moekhlas Sidik.

Sementara sebanyak nama seperti adik Prabowo, Hasyim Djojohadikusumo, Fadli Zon, Edhy Prabowo, Ahmad Muzani, hingga Sandiaga Salahudin Uno juga masih menghiasi susunan pengurus  dengan jabatan sebagai Wakil Ketua Dewan Pembina Gerindra.


Pengamat politik Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Arya Fernandes menilai, susunan pengurus baru ini tak mencerminkan jalan transformasi signifikan di tubuh partai berlambang kepala burung garuda itu.

Dream team mereka enggak terlalu banyak bertukar. Dalam suatu kepengurusan lalu & sekarang enggak banyak digeser, ” kata Arya kepada CNNIndonesia. com , Minggu (20/9).

Menurut Arya, kepengurusan baru tersebut masih didominasi orang-orang kepercayaan atau inner circle kekuasaan Prabowo lima tahun belakangan ini.

Ia mencontohkan beberapa nama seperti Muzani, Dasco, Fadli, Edhy, Sugiono hingga Hasyim masih menjadi bagian sentral dari kepengurusan golongan tersebut. Bahkan selain menjadi Pemangku Ketua Dewan Pembina, Dasco selalu ditunjuk sebagai Ketua Harian Gerindra.

Sementara Muzani saat ini masih dipercaya untuk mengisi situasi Sekretaris Jenderal  Gerindra oleh Prabowo. Posisi serupa juga diemban Muzani dalam kepengurusan Gerindra periode 2015-2020.

“Jadi ini jangkarnya enggak banyak berubah. Inner circle -nya Prabowo itu-itu aja, cuma ganti lembaga aja paling, ” kata Arya.

Arya turut menyoroti minimnya transformasi kader-kader potensial untuk mengisi jabatan strategis dalam partai. Ia mencontohkan nama Sandiaga yang hanya diberikan situasi dalam jajaran dewan pembina Gerindra.

Arya menyayangkan potensi Sandiaga yang begitu besar, justru tak ditempatkan pada jabatan yang sifatnya operasional dalam tubuh Gerindra. Padahal, kata dia, Sandiaga mempunyai kemampuan besar berada di leretan yang sifatnya teknis dalam kepengurusan tersebut.

“Bahkan orang seperti Sandiaga tak diberikan gaya operasional, yang punya kebijakan pada DPP Gerindra. Dia malah ditaruh di dewan pembina, padahal potensinya besar, ” ucap Arya.

Meski demikian, ia pula menyoroti sejumlah nama baru dalam posisi struktur pimpinan partai. Di antaranya nama cucu pendiri Nahdlatul Ustaz (NU) Hasyim Asy’ari, Muhammad Irfan Yusuf Hasyim atau Gus Irfan sebagai Wakil Ketua Umum Tempat Agama Gerindra.

Arya menilai, langkah menarik Gus Irfan sebagai pimpinan strategis Gerindra semata-mata ingin menarik ceruk suara sebab kalangan NU untuk partai tersebut.

“Tapi ya, enggak signifikan juga. Kebanyakan kalangan Nahdliyin ke PKB atau PPP pula selama ini, ” katanya.

Sandiaga Uno menyambangi kantor Kementerian Pertahanan di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat. Sandi menemui Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dan berdiskusi tentang isu-isu terkini. Dok : Istimewa Sandiaga Uno menyambangi kantor Kementerian Pertahanan di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat. Sandi menemui Gajah Pertahanan Prabowo Subianto dan berbahasan tentang isu-isu terkini. (Dok: Istimewa)

Pengaruh Faktor Elektoral

Arya mereken, pemilihan wajah-wajah lama dalam kepengurusan Gerindra saat ini juga tidak lepas dari faktor elektoral. Wajah-wajah lama itu dianggap berhasil mendongkrak perolehan suara Gerindra dalam Pemilu 2019.

Harapannya, nama-nama tersebut bisa membantu Prabowo melindungi perolehan suara Gerindra di Pilpres 2024 mendatang.

Selain itu, sosok Prabowo masih besar dalam tiap pengambilan kesimpulan partai yang strategis meski kini posisi ketua harian dijabat Dasco. Menurutnya, posisi ketua harian semata-mata menjalankan roda organisasi dan mengurusi hal teknis untuk membantu Prabowo.

“Kebijakan-kebijakan besar, yang punya efek elektoral besar, Prabowo masih jadi penentu. Saya kira jelas SOP-nya, sehingga enggak tumbuh matahari kembar, ” tuturnya.

Arya menilai, penunjukkan Dasco sebagai ketua harian sekadar muslihat internal guna memudahkan kerja-kerja golongan. Pasalnya, Prabowo saat ini turut mengemban tugas sebagai menteri pertahanan di Kabinet Indonesia Maju.

Senada, pengkritik dari Universitas Paramadina Hendri Satrio menilai Gerindra tak bisa terlepas dari sosok Prabowo. Menurutnya, Gerindra merupakan partai yang masih berpegang pada sosok figur sentral buat meraup suara masyarakat.

Untuk itu, wajar jika Prabowo memilih kader-kadernya berdasarkan faktor kedekatan dan kepercayaan untuk mengisi rangkaian kepengurusan partai.

“Gerindra itu sama seperti PDIP serta Demokrat, tetap tokoh sentral. Gerindra tokoh sentralnya Prabowo walaupun Dasco jadi ketua harian, ” cakap Hendri.

Hendri membuktikan, posisi ketua harian Gerindra berniat dibentuk untuk menjalankan roda pola partai karena Prabowo menjabat sebagai Menteri Pertahanan. Penunjukkan Dasco selalu dinilai tepat karena merupakan orang kepercayaan Prabowo.

“Ya tapi Gerindra adalah Prabowo, bukan Dasco. Jadi walaupun Dasco jadi ketua harian, semua orang lihatnya Prabowo, ” ucapnya.

(rzr)

[Gambas:Video CNN]