Kampus Tolak Fasilitasi Tes Covid Mahasiswa Pedemo Ciptaker

Jakarta, CNN Indonesia —

Sebanyak perguruan tinggi menyatakan tidak menyediakan tes  virus corona (Covid-19) bagi  mahasiswa yang mengikuti demonstrasi menegah Omnibus Law Cipta Kerja . Kejadian ini diungkap merespons imbauan Satuan Tugas Penanganan Covid-19 beberapa keadaan lalu.

Beberapa kampus yang tidak memfasilitasi pemeriksaan corona untuk mahasiswa yang berdemonstrasi merupakan Universitas Pancasila, Universitas Nasional dan Universitas Gadjah Mada.

Kepala Biro Humas Universitas Pancasila Putri Langka mengatakan pihak kampus sudah mewanti-wanti agar mahasiswa tak mengikuti demonstrasi di tengah pandemi  Covid-19.


“Kami informasikan bahwa sudah terdapat edaran dibanding bidang kemahasiswaan yang menyatakan tidak menyetujui kegiatan demo pada kala pandemi ini karena besarnya risiko penularan, ” ungkapnya kepada CNNIndonesia. com , Jumat (16/10).

“Mahasiswa yang tetap berangkat memiliki tanggungan atas tindakannya masing-masing. Termasuk  rapid test merupakan tanggung jawab pribadi untuk saat ini, ” lanjutnya.

Putri mengatakan imbauan agar melakukan rapid test secara mandiri sudah disampaikan oleh pihaknya kepada mahasiswa. Ini disarankan agar mahasiswa menyelami kondisi kesehatannya dan tidak membahayakan orang di sekitarnya.

Lebih lanjut ia menegaskan Universitas Pancasila juga masih melakukan pembelajaran daring. Sehingga tidak ada kesibukan yang dilakukan di kampus & berpotensi menyebabkan penularan virus.

Kepala Biro Humas Universitas Nasional, Jakarta,   Marsudi membicarakan hingga kini belum ada titah dari pimpinan kampus untuk memfasilitasi pemeriksaan corona bagi mahasiswa yang melakukan demonstrasi.

Dia menekankan, kampus tidak terkait di dalam tindakan mahasiswa melakukan demonstrasi menentang UU Cipta Kerja dalam beberapa waktu ini, sehingga tidak melakukan pemeriksaan masif.

“Mereka kan bukan atas arahan Unas, mereka kan turun berdemo untuk keinginan masing-masing individu, ” katanya kepada CNNIndonesia. com .

Marsudi juga mengatakan Unas tak menerima informasi maupun arahan resmi dari pihak terkait agar mengabulkan pemeriksaan terhadap mahasiswa.

Sedangkan Universitas Gadjah Mada memiliki layanan fasilitas pemeriksaan corona buat mahasiswanya. Namun terdapat syarat yang perlu dipenuhi mahasiswa untuk diperiksa secara gratis. Mengikuti demonstrasi tidak termasuk antara lain.

“Kampus memfasilitasi tes Covid-19 untuk mahasiswa yang datang dari daerah, mahasiswa yang akan kembali ke kawasan asal, mahasiswa yang akan penelitian skripsi, tesis dan disertasi, badan kemahasiswaan dan mahasiswa yang bakal mengikuti lomba, ” ungkap Eksekutif Kemahasiswaan UGM Haryadi kepada CNNIndonesia. com .

Ia mengatakan klinik milik kampus tidak menolak pemeriksaan buat mahasiswa yang mengikuti aksi. Namun mahasiswa tersebut harus memenuhi salah satu dari syarat yang dikenal.

“Tidak memenuhi kriteria, mahasiswa secara sadar tes mandiri di luar, ” lanjutnya.

Namun begitu, katanya, UGM menyediakan tempat periksa dan isolasi bagi mahasiswa yang memiliki petunjuk namun tidak termasuk dalam lima syarat yang ditentukan kampus.

Sebelumnya, juru bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito meminta agar kampus melakukan pemeriksaan massal terhadap mahasiswa yang melakukan demonstrasi belakangan itu.

Satgas Covid-19 mencatat ada 123 mahasiswa berasal dari perguruan tinggi di enam daerah yang tercatat reaktif Covid-19. Dia pun khawatir demonstrasi mahasiswa akan memunculkan klaster baru.

“Kami imbau agar pihak universitas yang mahasiswanya mengikuti kegiatan kelakuan tersebut untuk melakukan identifikasi & testing , ” katanya, Selasa (13/10).

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengimbau mahasiswa tidak turun ke jalan  berdemo menolak Omnibus Law Membentuk Kerja. Penolakan mahasiswa sebaiknya disalurkan lewat   kolom akademis. Namun demonstrasi mahasiswa sedang berlangsung sejak 8 Oktober hingga hari ini di berbagai daerah, termasuk di DKI Jakarta.

(fey/wis)

[Gambas:Video CNN]