Iran soal Sanksi AS hingga Penyelenggara Novichon Minta Maaf

Jakarta, CNN Indonesia —

Sejumlah peristiwa terjadi pada Selasa (22/9) dirangkum dalam kilas internasional . Mulai dari sanksi senjata GANDAR terhadap Iran hingga ilmuwan penyelenggara racun Novichok meminta maaf ke Alexei Navalny .

Negeri Iran menyatakan musuh bebuyutan itu, Amerika Serikat, kini terkucil setelah negara-negara besar menolak pernyataan sepihak tentang pemberlakuan kembali sanksi Persekutuan Bangsa-Bangsa (PBB).

Melansir  AFP, Senin (21/9), Presiden Iran, Hassan Rouhani, mengatakan kampanye yang dilakukan AS untuk menekan Teheran telah menjadi bumerang.


“Kami dapat mengatakan bahwa ‘tekanan maksimum’ Amerika terhadap Iran, pada aspek politik dan hukumnya, telah berubah menjadi isolasi maksimum (bagi) Amerika, ” kata Rouhani di pertemuan kabinet yang disiarkan pada televisi.

AS meminta sanksi terhadap Iran kembali diberlakukan di bawah mekanisme “snapback” pada perjanjian nuklir 2015, meskipun itu telah menarik diri dari kesepakatan itu. AS juga mengancam hendak “memberikan konsekuensi” kepada negara-negara dengan tidak mematuhinya.

Menteri Luar Negeri Mike Pompeo mengatakan bahwa Amerika Serikat telah memberlakukan kembali sanksi senjata terhadap Iran.

Pompeo mengatakan langkah ini merupakan kegiatan terbaru dalam kampanye “tekanan maksimum” terhadap Teheran. Tindakan tersebut berlaku setelah pemerintah AS gagal memperpanjang embargo senjata konvensional yang hendak berakhir bulan depan di lembah kesepakatan nuklir Iran.

“Amerika Serikat mengharapkan semua Negeri Anggota PBB sepenuhnya mematuhi urusan mereka untuk menerapkan langkah-langkah tersebut. Selain embargo senjata, (sanksi) itu termasuk larangan Iran untuk terkebat dalam kegiatan pengayaan dan pemrosesan ulang, larangan pegujian dan pengembangan rudal balistik oleh Iran, dan sanksi atas transfer teknologi terpaut nuklir dan rudal ke Iran, ” kata Pompeo dalam sebuah pernyataan.

“Jika Negara Anggota PBB gagal memenuhi urusan mereka untuk menerapkan sanksi itu, Amerika Serikat siap menggunakan dominasi domestik kami untuk memberlakukan pengaruh atas kegagalan tersebut dan mengesahkan bahwa Iran tidak menuai makna dari aktivitas yang dilarang oleh PBB, ” tambahnya.

Seorang ilmuwan yang ikut mengembangkan racun saraf Novichok, Will Mirzyanov, menyampaikan permintaan maaf kepada tokoh oposisi Rusia, Alexei Navalny, setelah sempat koma sebab diduga diracun dengan zat tersebut.

Will merupakan sarjana pertama yang mengungkap perkembangan Novichok.

Melansir  AFP, Senin (21/9), dalam wawancara dengan stasiun TV Rain of Russia pada Sabtu (19/9) malam waktu setempat, Wil mengatakan bahwa dia ingin meminta maaf kepada Navalny.

Sebab, pemerintah Jerman menyatakan lelaki berusia 44 tahun itu menunjukkan bukti telah keracunan Novichok.

“Saya terlibat dalam pekerjaan kriminal ini karena jalan zat ini, saya meminta maaf kepada Navalny, ” ujar Will yang menetap di Amerika Konsorsium sejak 1995.

(evn)

[Gambas:Video CNN]