BioNTech Ragu Produksi Vaksin Corona Penuhi Permintaan Pasar

Jakarta, CNN Indonesia —

Kepala Eksekutif  BioNTech SE Jerman, Ugur Sahin, mengatakan khawatir kapasitas produksi  vaksin virus corona ( Covid-19 ) mereka tidak sanggup memenuhi suruhan pasar.

Sebagai mitra perusahaan obat Amerika Serikat, Pfizer Inc., kini mereka berusaha memajukan produksi vaksin itu guna memenuhi permintaan yang sangat besar.

Apalagi setelah Badan Penilik Obat dan Makanan Amerika Konsorsium (FDA) resmi memberikan izin penggunaan darurat vaksin Pfizer-BioNTech pada Jumat (11/12) untuk memerangi pandemi virus corona.



Keputusan FDA ini muncul setelah melakukan studi pada hasil uji klinis, akan tetapi juga ditengarai berada di kolong tekanan pemerintahan Presiden Donald Trump.

Dilansir NDTV , Sabtu (12/12), BioNTech mengatakan mereka mau memproduksi hingga 1, 3 miliar dosis vaksin pada tahun depan.

Setelah AS menyampaikan izin penggunaan darurat kepada vaksin Pfizer, Sahin berharap pihaknya serupa akan menerima persetujuan bersyarat lantaran Badan Obat Eropa pada akhir bulan ini, dan dapat mulai meluncurkan vaksin di negara-negara Eropa awal tahun depan.

“Rencana dasarnya adalah (memproduksi) 1, 3 miliar dosis. Dan kami sedang mengerjakan rencana yang diperpanjang. Saya tidak dapat memberi tahu Anda saat ini apa dengan mungkin dan seberapa besar ana dapat memperluas skala, tapi saya akan mencoba melakukannya secara kaya, ” kata Sahin.

Dilansir The Kashmir Monitor , pemerintah AS telah memesan 100 juta dosis vaksin dan kemungkinan akan memesan lagi dalam jumlah lebih banyak.

Padahal, Anggota Dewan Pfizer dan mantan komisaris FDA, Scott Gottlieb, mengatakan dalam sebuah wawancara dengan CNBC bahwa mereka sempat mengusulkan untuk menjual lebih banyak jumlah ke AS pada bulan berarakan, tetapi ditolak.

Dalam data yang dirilis pekan ini, Pfizer dan BioNTech mengatakan efek vaksin mereka mulai terlihat, bahkan sebelum penerima vaksin menerima suntikan kedua. Tampaknya, vaksin Pfizer mulai menunjukkan kemanjuran kira-kira 12 hari setelah suntikan perdana.

“Kami tahu kalau tanggapan kekebalan (akan) sangat meningkat setelah dosis kedua (diberikan), ” kata Sahin.

Lebih lanjut, dia mengatakan pihaknya belum memutuskan apakah akan mengevaluasi versi dosis tunggal dari vaksin itu.

(ans/ayp)

[Gambas:Video CNN]