Abdul-Jabbar: Rasialisme di AS Lebih Menyambut dari Covid-19

Jakarta, CNN Indonesia — Legenda  NBA Kareem Abdul-Jabbar menganggap rasialisme di Amerika Serikat lebih mematikan daripada pandemi Covid-19 menyusul kasus kematian George Floyd .

Lewat tulisan di Longgar Angeles Times, Abdul-Jabbar mengkritik perilaku pemerintah dan polisi terhadap bangsa kulit hitam. Mantan pemain Longgar Angeles Lakers itu mengatakan urusan rasial terhadap orang kulit hitam di AS selalu dianggap sebelah mata.

“Masyarakat Afrika-Amerika tinggal di gedung yang melalak selama bertahun-tahun, tersedak karena asap ketika api semakin dekat. Rasialisme di Amerika Serikat seperti debu di udara, ” tulis Abdul-Jabbar dikutip dari CNN .
“Tampak tidak tampak, bahkan jika Anda tersedak, datang Anda membiarkan matahari masuk. Cerai-berai Anda sadar itu ada di mana-mana. Komunitas kulit hitam terbiasa dengan rasialisme institusional yang karib dalam pendidikan, sistem peradilan serta pekerjaan, ” sambung Abdul-Jabbar.

Abdul-Jabbar yang menjelma mualaf pada 1974 kemudian mendesak pemerintah AS memberi perlakuan yang sama untuk masyarakat kulit hitam. Pengoleksi enam gelar juara NBA itu menganggap orang kulit hitam di AS sudah lama menderita.

“Jadi mungkin masalah sari komunitas kulit hitam saat tersebut bukan apakah pengunjuk rasa berdiri terpisah tiga atau enam suku atau bahkan membakar kantor polisi, tetapi apakah putra-putri, suami, ahli dan ayah mereka akan dibunuh oleh polisi atau ‘polisi jadi-jadian’ hanya karena ingin jalan menguasai, jogging atau berkendara, ” ujar Abdul-Jabbar.

[Gambas:Video CNN]
“Apakah karena kita jangat hitam, kita harus tetap beruang di rumah seumur hidup kita karena virus rasialisme yang menginfeksi negara ini lebih mematikan daripada Covid-19, ” tulis Abdul-Jabbar.

Abdul-Jabbar dianggap sebagai salah kepala pemain NBA terhebat dalam kenangan. Di luar lapangan, pemain yang terlahir sebagai Ferdinand Lewis Alcindor Jr. itu aktif bersuara kala muncul isu sosial. (har/jun)